Di Indonesia, menjadi seorang difabel sering diartikan sebagai jalan buntu kehidupan, pasalnya akses kerja dan pemberdayaan kelompok difabel masih minim apresiasi.

Bagi Subhan dan Andri hal ini berubah 180 derajat setelah mereka menemukan badminton kursi roda. Mereka bergabung dalam tim para-badminton DKI Jakarta bersama dengan teman difabel lainnya, mulai dari tuna rungu, hingga tuna daksa-standing.

Subhan, yang juga pegawai di lingkungan pemerintahan, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kelumpuhan pada kakinya secara permanen. Meski hidup dengan kursi roda, Subhan tidak membiarkan situasinya menghentikan kecintaannya pada olahraga badminton.

Badminton kursi roda memberi mimpi dan tujuan baru bagi Wiwin Andri yang hijrah ke Jakarta dari Palembang sejak kecelakaan motor membuat ia harus kehilangan satu kakinya di usia 16 tahun.

Bersama tim DKI Jakarta, Andri dan Subhan telah menaklukkan berbagai kompetisi nasional. Kini keduanya bermimpi ingin berlaga wakili Indonesia di Paralimpiade mendatang.

https://www.voaindonesia.com/a/6212947.html

Share To Your Friend :
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Terkait